Latar Belakang   Leave a comment

TEKNOLOGI HORTIKULTURA

Perjalanan hidup saya, mengilhami angan-angan saya tentang keadaan masyarakat Indonesia pada abad millenium mendatang. Keadaan masyarakat yang hidup tertib dan disiplin. Dimana rumah tinggal, kantor, pertokoan, pasar dan jalan raya terletak pada blok-blok yang teratur, tentunya dengan kios-kios buah dan sayuran di pojok-pojok jalan (barrow) yang bersih, rapi, berkualitas (segar) dan harga terjangkau. Lingkungan yang sehat dengan penduduk yang tertib, kecukupan pangan bergizi, khususnya buah dan sayuran dengan harga terjangkau, merupakan impian kita bersama. Hampir di semua negara maju, kondisi kesehatan masyarakat jauh lebih baik dibandingkan dengan di Indonesia. Lingkungan yang sehat ditunjang dengan makanan dan minuman bergizi, dimana konsumsi buah dan sayuran segar maupun olahan di negara maju jauh lebih tinggi dari konsumsi serupa di Indonesia. Keadaan ini yang membuat kondisi kesehatan masyarakat negara maju menjadi lebih baik. Kita lihat disini, pasien yang antre pada dokter umumnya, baik pagi maupun sore dan malam hari, mengeluh soal penyakit batuk, flu, pusing dan penyakit ringan lainnya. Kondisi ini jarang kita jumpai di negara maju. Mereka hampir setiap pagi, siang, malam minum juice jeruk, apel, kadang juice tomat, kita minum air putih. Hampir setiap hari mereka makan buah, kita makan nasi dan lauk pauk. Kondisi ini bisa diakibatkan oleh beberapa faktor. Namun yang menjadi perhatian utama saya, adalah: implementasi teknologi di bidang produk hortikultura masih jauh dari yang seharusnya ada dan terus berkembang untuk, mampu menyediakan buah, sayuran segar dan produk olahannya selalu tersedia setiap musim dengan harga terjangkau dan berkualitas.

Hal ini hanya mungkin diterapkan apabila tanaman hortikultura diusahakan dalam skala industri, bukan skala gurem. Sehingga teknologi bisa diterapkan untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan harga terjangkau atau murah. Mimpi tersebut sulit untuk diwujudkan, apabila teknologi yang ada di bidang produk hortikultura mandeg atau stangnant. Agenda penelitian di Perguruan Tinggi khususnya bidang Teknologi Produk Hortikultura tidak/belum disusun. Produk hortikultura kita di pasar ekspor tidak bisa bersaing. Hal ini akan diulas lebih rinci pada uraian berikut. Kondisi ini menjadi lebih buruk, ditunjang oleh krisis ekonomi berkelanjutan, membuat daya beli pasar domestik rendah. Kita lihat kota Malang saat ini, PKL semrawut, di setiap tempat, bahkan penjual rambutan dan jenis buah lainnya berjualan di jalan raya. Kondisi yang memprihatinkan ini, sangat jauh dengan angan-angan saya pada uraian sebelumnya.

Posted October 20, 2011 by gjb311rahkasiwi in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: